Thursday, November 22, 2018

Antara Tamparan Sihir dan Kekuatan Micin



Tubuhku tengah berada di ketinggian 36.000 kaki di atas permukaan laut, entah kali keberapa aku merasakan berada di ketinggian ini dalam situasi turbulensi cukup mendebarkan. Dua seat di sebelah kiriku ke arah jendela pesawat diduduki ayah dan ibu mertuaku. 

Sepertinya ini perjalanan pertama kali yang mereka lalui di udara. Terpancar kekhawatiran yang menyeruak dari wajah mereka dengan aroma wajah tegang dan tangan yang mencekik keras lengan kursi. Kulihat mulut mereka merapalkan doa dan zikir sepenuh hati kontras dengan penumpang lain yang riang seolah tak menggubris goncangan pesawat maha kuat yang tengah terjadi. Aku tenggelam dalam zikir dan doa-doa keselamatan.

Beberapa jam kemudian pesawat mendarat di bandara Penang dengan selamat.   

Keesokan harinya kuamati rumah sakit dengan seksama. Aku heran, mereka buka pagi sekali, Saat suasana masih cukup gelap. Kebiasaan yang tidak akan pernah ditemui di negeriku. Pendaftaran dibuka dan antriannya seperti biasa, cukup panjang. 

Pukul 08.00, selesai dengan segala tetek bengek administrasi, mulai kurebahkan tubuh di kursi antrian panjang tepat di depan ruang dr. Chan, spesialis kepala. Lelah menyergap raga. Pikiranku melayang kembali ke Banda Aceh, kepada sosok dokter spesialis bedah yang berulang kali meyakinkanku bahwa infeksi telah menembus batok kepalaku.

Ada harap-harap cemas diagnosanya meleset. Manusiawi sekali rasanya, saat ketakutan akan bayangan kematian itu berulang-ulang menyapa. Bukan sakitnya kematian yang kukhawatirkan, tetapi di lembah mana akan dilemparkan jiwa ini saat babak akhir penentuan nanti. Syurga itu terasa sungguh jauh dari sekedar penglihatan mataku, sedang neraka kengeriannya mulai menjalar ke pucuk-pucuk, tak sanggup dan tak ingin walau hanya sekedar untuk dibayangkan.

“Tak pe lah, tak usah risau, tak sampai menembus tulang” ujar dr. Chan

Terbayang film upin ipin saat mendengar dokter ini bertutur. Tubuhnya yang pendek berkulit putih dan bermata sipit mengonfirmasi bahwa ia adalah keturunan Tionghoa. Serasa ingin meledak bahagia jiwaku saat mendengar keterangan dr. Chan barusan.

“Yang benar dok? Infeksi tidak sampai menembus kepala? Jadi tidak berbahaya? Tidak perlu sampai di angkat dan digergaji tulang kepala saya kan dok?”

Ahh, mulutku nyerocos tak terkontrol demi inginnya mendapati kenyataan penyakit yang telah bersemayam 9 tahun lamanya belum sampai menghancurkan isi kepalaku. Ada gerimis haru dalam dada. Mataku mulai berkaca-kaca. Terimakasih ya Allah, untuk yang kesekian kalinya Engkau sudi kiranya menitipkan nyawa dalam jasadku yang hina ini.

dr. Chan menjelaskan bahwa kendati belum menembus masuk, jaringan infeksi telah merusak sebagian tulang kepala luar. Oleh sebab itu, tetap harus dilakukan prosedur operasi untuk pengambilan jaringan yang telah terinfeksi.

Dengan berbekal anastesi lokal dr. Chan dan tim berjibaku membelai-belai kepalaku dengan pisau tipis, kecil dan tajam. 4 jam lamanya tubuhku rebah pasrah di meja operasi.

Jangan tanya bagaimana perasaanku saat darah mulai mengalir ke telinga, leher dan dagu. Segala zikir dan ayat telah kurapalkan selama proses berlangsung. Wahai Allah, engkaulah yang maha menghidupkan dan mematikan. Ampunilah segala dosa dan kesalahan hamba. Apapun suratan takdir yang kau berikan untukku, ridhailah hidup dan matiku.

Tiga orang berseliweran dan bergantian membayang di pelupuk mataku kala itu. Mereka adalah Ibuku, istriku dan janin bakal anakku yang berumur delapan bulan. Semoga segalanya baik-baik saja.

Ini bukan kali pertama kepalaku ‘diobrak-abrik’. Sebelumnya telah dua kali dilakukan operasi yang sama di lokasi yang sama. Yaitu pengangkatan tumor sebesar biji jengkol. Operasi pertama tidak bersih dan tidak teliti, sel tumor yang bersisa jadi mengamuk dan berkembang lebih agresif. Tak lebih dari sebulan sel itu mulai menggandakan diri dan berkembang kembali menjadi sebesar bola pingpong.

Operasi pengangkatan kedua kalinya dilakukan dan tiba-tiba masalah lain muncul. Pasca operasi geliat sel tumor memang tak terdeteksi, tetapi bekas operasi mengalami infeksi. Di jejas bekas operasi itu bersarang nanah yang tak tau kemana arah jalan keluar karena kulit kepala telah sembuh dan menutup sempurna seperti sedia kala.

Ikhtiar meminum herbal pun kulakukan. Akar alang-alang, bunga kumis kucing, bayam berduri, benalu pohon kopi, umbi pahit beracun dan beberapa tumbuhan lain yang tak lagi kuingat namanya dikumpulkan dalam satu belanga, direbus dan diminum sehari tiga kali. Rasa pahitnya bukan kepalang. Sebulan lamanya air rebusan amat pahit itu menyapa lidahku.

Begitulah awal perkenalan manisku dengan penyakit infeksi yang etiologinya bahkan membingungkan para ahli bedah. Ada harapan yang membumbung, penyakit pergi hilang melayang setelah operasi dr. Chan dilakukan. Yah, Setidaknya tak sampai harus dibelah tulang kepala seperti gambaran dokter spesialis bedah pertamaku.

Etiologinya adalah…          


Sampai di titik ini aku kehilangan kepercayaan diri. Berkali-kali mantra penyemangat hidup kulafalkan. Tetapi tak banyak membantu. Meski tak sampai menyalahkan Tuhan, tapi kerap sekali aku menangisi keadaan. Tangisan yang tanpa air mata dan kesedihan yang tanpa ratapan. Tetapi semua ini semakin melumerkan keyakinan akan semangatku yang mulai teracuni dan kepercayaan diriku yang nyaris porak-poranda.

Satu semester telah berlalu semenjak operasi dr. Chan, naas, infeksi itu mulai kambuh kembali. Kepalaku bernanah tanpa ampun dan tak memeduli tuan. Bahkan satu semester lebih kutinggalkan co-ass demi fokus dalam pemulihan kesehatan, tak membuahkan apa-apa. Sia-sia belaka.

Lantas penyebabnya apa hingga bisa kambuh kembali? itupun masih tetap jadi misteri. Sampai kapan aku harus menanggung penyakit ini?

Bila aku kembali pada dokter bedah pertamaku, ahh, beliau pasti akan mengatakan ‘tuh kan saya bilang juga apa’. Dan apakah pada akhirnya aku harus tunduk dengan skenario perawatan dengan pengangkatan tulang kepala oleh spesialis bedah saraf di RSUDZA. Membayangkannya saja membuat aku bergidik ngeri. Seperti meja pembantaian pada film psikopat favoritku.

Namun, jika aku harus kembali lagi kepada dr. Chan, jarak, waktu dan biaya jadi pertimbangan yang membimbangkan. Jangan-jangan dr. Chan bahkan akan menganjurkan hal yang sama dengan saran dokter bedah pertamaku. Ahh, tidak-tidak.

Tiba-tiba saja terbayang kembali potret menyedihkan saudaranya dari temanku yang hidup segan mati tak mau dengan kepala ditumpangi bekas bedah yang tak kunjung sembuh setelah dilakukan bedah saraf dan pembukaan sebagian tulang kepala.

Harus begitukah jalan hidupku ini ya Rabbi? Akankah aku hidup dalam beban orang lain dalam waktu yang lama? Hidup tak berguna, mati pun tak kunjung tiba.

Kemana hilangnya gairah itu? Dibalik tatapan riang dan mata cahaya yang kerap kutampilkan dihadapan sanak karib, kerabat dan sahabat ada pikiran yang nanar dan jiwa yang gerimis.

Bagaimana dengan mantra? Mantra pembangkit semangat saat terpuruk. Mengapa tak kunyanyikan lagi? Entahlah, aku tetap masih percaya pada kekuatan mantra itu. Tetapi meski seribu kali kuucap, ia tetap tak kuasa mengusir batu besar yang kupikul. 

Dalam kesulitan dan kesempitan dada yang menekan, satu hari aku bertemu dengan drg. Rafi. Seorang dosen spesialis kawat gigi yang sedikit banyak mendengar siaran kabar entah dari siapa tentang penyakitku. Entah angin apa yang membawanya untuk mau duduk bersamaku, memberikan masukan-masukan yang kelak jadi obat paling mujarab bagi masalah terbesarku ini.

“Pertama yang ingin saya tanyakan, adakah orang yang tidak senang denganmu?” Awalnya enggak ngeh dengan pertanyaan drg. Rafi ini. Tetapi kemudian aku paham, kecurigaannya karena  bisa jadi penyakit ini kiriman orang lain.

Tapi aku tak punya musuh. Setidaknya itu yang kurasa. Sebisa mungkin selalu kuhindari pertengkaran dengan siapapun. Tapi mungkin saja, meski tanpa pertengkaran, orang iri akan mengirimkan jampi-jampinya lewat buhul-buhul.

Aneka zikir sesuai sunnah nabi diajarkan drg. Rafi selain dari yang sudah biasa dilakukan . Kucatat dengan seksama. Kucoba amalkan semampunya. Meskipun seandainya ternyata semua ini bukan karena sihir, tak jadi masalah. Tidak rugi juga. Bukankah merutinkan zikir dapat melembutkan hati, mengundang ketenangan dan mendatangkan pahala. Tak ada salahnya kucoba.

“Yang kedua,” ujar dokter Rafi, menarik nafas jeda. Aku menunggu-nunggu penasaran, “Kamu ada alergi?” Sambungnya.

“Enggak pernah Dok” jawabku yakin.

“Tau darimana?”

“Emm, belum pernah ada reaksi merah-merah atau gatal-gatal di tubuh saya setelah memakan sesuatu apapun dokter”

“Jadi nanah di kepalamu?” Cecar drg. Rafi

“Apa penyakit saya ini reaksi alergi menurut dokter?”

“Menurut kamu?”

Ahh, hubungan dosen-mahasiswa ini bahkan tetap terasa disaat-saat aku butuh solusi. Aku masih diminta untuk berfikir mandiri dengan clue yang diberikan. Tak masalah.

Aku menggelengkan kepala tanda tak tahu.

“Saya tidak benar-benar yakin dengan ini ya. Tapi saya mengira kalau penyakitmu itu bisa saja sebagai sebuah reaksi alergi. Mendengar penuturanmu, setelah minum antibiotik, infeksi itu sembuh lalu kambuh kembali. Dan telah pula  dilakukan kultur jaringan untuk mendeteksi jenis bakteri dan jenis antibiotic yang tepat. Harusnya itu sudah cukup. Kalau masih kambuh, saya curiga, jika ini bukan karena kiriman, bisa jadi ini adalah reaksi alergi”

“Begitu ya Dok?”

“Coba kali ini kamu ikuti saran saya. Jangan konsumsi ayam potong. Jangan konsumsi segala jenis seafood. Jangan konsumsi makanan dan minuman instan. Dan terakhir, jauhi sama sekali masakan berpenyedap”

“Lalu apa yang saya makan Dok” setengah berfikir bagaimana menekan selera. Menyadari pertanyaan konyol ini segera kuralat sendiri, “ya tentu selain yang dokter sebutkan tadi”.

Siapa sangka saran drg. Rafi dalam pertemuan singkat itu adalah cara Allah menjawab doaku yang lirih penuh harap selama ini.

Ajaib!

Hampir sebulan kuhindari segala jenis makanan yang disarankan drg. Rafi dan infeksi tidak pernah muncul sama sekali. Hahh, Segala puji hanya milikmu ya Allah. 1000% benar kecurigaan drg. Rafi. Ini adalah alergi. Tidak ada satupun dokter spesialis yang kutemui menduga alergi. 

Sekarang masalah jadi sangat sederhana. Allah uji aku dengan persoalan sederhana. Bukankah jika hanya sekedar alergi dapat diatasi dengan menghindari sumbernya. Tapi Allah ingin melihat seberapa besar usahaku dalam ikhtiar penyembuhan. Masya Allah.

Bulan berikutnya aku ingin menguji dari beberapa jenis makanan yang dilarang drg Rafi seperti ayam potong, seafood, makanan/minuman instan dan masakan mengandung penyedap, manakah dari itu semua yang menyebabkan alergi. Dan ternyata penyebabnya adalah masakan yang mengandung penyedap dan segala jenis makan instan yang mengandung MSG.

Alangkah malangnya sejak tujuh tahun jauh dari orang tua, aku selalu makan di warung. Dan favoritku adalah masakan padang di dekat kampus. Ingin kusampaikan pada semua orang, masakan padang, nasi goreng, ayam penyet dan hampir semua masakan yang dijual mengandung penyedap.

Bolehlah aku menyimpulkan semua ini gara-gara penyedap. Orang sering menyebutnya micin.

Beberapa waktu lalu aku ngobrol dengan seorang pemilik gedung yang kusewa. Istrinya tiba-tiba mengidap penyakit kanker di otaknya. Terjadi setelah seminggu sebelumnya menemani suaminya yang dirawat di rumah sakit karena lambungnya bermasalah. Selama seminggu itu istrinya selalu makan masakan warung yang berpenyedap.

Untung kanker dapat diketahui dan diperiksa sejak dini dan langsung mendapatkan perawatan operasi. Alhamdulillah sembuh. Selama ini sang istri selalu makan masakan sendiri tanpa penyedap. Hanya dalam waktu seminggu saja penyedap dapat menjadi salah satu pemicu kanker yang mengerikan.

Mulai sekarang kukobarkan peperangan untuk mengalahkan kekuatan micin. Sedapnya penyedap.

Semoga kisah ini jadi pelajaran bagi semua.

Silahkan dibagikan jika merasa tulisan ini bermanfaat.     


Sunday, November 11, 2018

Sakit yang mungkin kubawa mati?




Wahai cobaan, selama kau tak sampai membunuhku, kau bisa kukalahkan! 

Bagai sebuah mantra, kalimat inilah yang menguasai pikiranku. Seperti saripati nutrisi bagi tumbuhan, hingga ia punya alasan untuk terus hijau, tumbuh dan berkembang. Bagai tabuhan genderang perang kala musuh merangsek ke hadapan, tak henti-henti memacu nyali. Mantra itu menyala. Hanya satu tujuan, hidup atau mati!

Sederhananya, bila musuh tak sanggup membunuhku, aku mampu mengalahkannya. Begitu pula masalah. Selagi ia tak mampu menghabisi nyawaku, masalah itu sungguh  sanggup kutaklukkan.
Biasanya mantra ini berhasil. Masalah datang, lalu masalah hilang. Senyum kembali mengembang. Seperti mereka dan siapapun, aku selalu beranggapan, masalah dan cobaan pasti berlalu.

Tetapi tidak untuk kali ini. Saat mataku masih saja termangu mendengar penjelasan dokter bedah, analisis dan diagnosanya setelah memantau hasil CT-Scan kepalaku. Dengan penuh keyakinan ia menarik kesimpulan bahwa infeksi telah menembus tulang tengkorak kepalaku. Mendengar ini, seperti ada alarm bahaya berdenting di kepalaku. Habis sudah!

Sambil berupaya mengumpulkan kepingan puzzle kepercayaan diri yang tiba-tiba terserak, setengah tegang kutanyakan, “Apa benar begitu dokter?”

“Ya. Maaf sebelumnya, saya kurang sependapat dengan diagnosa spesialis radiologi yang menyatakan infeksi ini belum menembus tulang kepala. Maaf sekali saya harus mengatakan itu dik. Kamu tahu sendirilah,” sorot mata sang dokter bedah itu penuh arti.

Aku berusaha menebak. Ya, ini barangkali terkait pengalaman yang dialaminya terhadap kualitas analisis sang spesialis radiologi yang kerap meleset selama ini. Atau bisa pula aku mengira ini terkait rendahnya kualitas alat CT-scan yang dimiliki rumah sakit hingga mengaburkan diagnosa. Entahlah. Tapi aku mengangguk sok paham.

Treatment untuk kasus kamu ini bukan jadi wilayah kerja saya lagi, Dik. Saya akan rujuk ke spesialis bedah saraf, dan dokternya tidak ada di rumah sakit ini. Hanya ada di RSUDZA. Saya akan rujuk ke sana. Nanti perawatannya adalah sebagian tulang kepala akan diangkat dan dibuka lalu jaringan infeksi didalamnya dibersihkan dan ditutup kembali,”

Terkejut alang kepalang batin ini. Tiba-tiba saja terbayang potret menyedihkan saudaranya dari temanku yang hidup segan mati tak mau dengan kepala ditumpangi bekas bedah yang tak kunjung sembuh setelah dilakukan bedah saraf dan pembukaan sebagian tulang kepala.

Harus begitukah jalan hidupku ini ya Rabbi? Akankah aku hidup dalam beban orang lain dalam waktu yang lama? Hidup tak berguna, mati pun tak kunjung tiba.

Terbayang pula istriku yang tengah hamil tua dalam lemah yang bertambah-tambah harus merawatku yang tak lagi bisa sekedar mengurus diri, apa lagi untuk melindungi dan memberi rasa aman baginya.
 
“Meski begitu, sebelumnya saya ingin terakhir kali kamu membawa hasil CT-Scan ini pada spesialis radiologi senior ke tempat prakteknya. Letaknya di samping Kuala Raja Hotel. Setelah itu, kamu bawa kembali hasil analisisnya kepada saya.” Tutur dokter bedah sembari menandatangani berkas-berkas dan melipatnya kembali lantas menyerahkan kepada petugas perawat.

Ini pertanda habis penjelasan. Akupun tak hendak mengajukan tanya. Telah jelas instruksinya, segera bawa hasil CT-Scan untuk dibaca oleh spesialis radiologi senior yang berpraktek di samping Kuala Raja Hotel, Banda Aceh.

Seminggu kemudian aku kembali mendatangi dokter yang menanganiku dengan membawa data hasil baca CT-Scan.

Ada harapan yang mengendap. Sejak pertama kali dikatakan bahwa infeksi sudah menembus tempurung kepala, aku sudah ragu. Bukan karena fatwa batin yang menginginkan aku harus baik-baik saja. Tetapi sedikit banyak aku sering pula menyaksikan bias meragukan dari hasil foto roentgen yang kurang baik saat koas gigi hingga mengaburkan diagnosis. Seringkali aku mengira itu tampilan kelainan, tetapi langsung dimentahkan instruktur klinik. Itulah mengapa selain tampilan radiologi/CT-Scan yang menjadi acuan, jangan pula lupakan gejala klinis yang dirasakan si pasien.

Dilihat dari gejala klinis, tak ada rasa sakit tajam atau apalah yang serius yang kurasakan selama ini. Semestinya bila infeksi telah menembus tempurung kepala, setidaknya ada gejala apalah gitu. Aku tak paham. Tapi aku tetap baik-baik saja. Tidak muncul gejala apapun selain rasa sakit karena bertumpuknya nanah di bawah kulit kepala, nanah yang terus terproduksi tanpa tau kemana arah jalan keluar. Setiap bulan dan sepanjang tahun terus menerus kurasakan. Sudah 9 tahun lama.

Dan inilah masalah besarku. Kepala bernanah lalu sembuh, lalu bernanah lagi lalu sembuhlagi. Begitu seterusnya. Sampai aku mengira ini adalah azab Allah kepadaku.

Aku yakin – meski nilai keyakinan tak sampai  50% – infeksi tidak atau bisa pula dikata belum menembus batok kepalaku. Ditambah lagi dari hasil baca spesialis radiologi senior menyimpulkan bahwa infeksi belum menembus tulang kepala. Aku semakin yakin, aku masih hendak ditolong Allah.

Ngomong-ngomong aku dengar spesialis radiologi senior ini analisisnya sangat akurat dan dijadikan rujukan spesialis lainnya. Ada lega yang mengendap di dadaku meski tak sepenuhnya. Setidaknya aku punya waktu untuk memusnahkan penyakit ini sebelum benar-benar menggerogoti habis tulang kepala.

“Saya tetap yakin ini sudah menembus tulang kepala, Dik. Mohon maap sebelumnya, ini saya sampaikan tanpa mengurangi rasa hormat dan takzim saya pada spesialis radiologi senior itu. Saya tetap akan merujuk kamu ke spesialis saraf di RSUDZA, karena ini sudah masuk wilayah kerja beliau,” dengan segala kerendahan hati sang dokter bertutur.

Meski begitu Ia tetap memberikan pilihan kepadaku. Semenjak seminggu yang lalu ada rencana aku pergi berobat ke RS di Malaysia. Batinku berkata, bila segalanya masih belum jelas, bahkan diagnosis penyakitku masih berbeda-beda, bolehlah aku berikhtiar lebih untuk menjemput sehat.

Adalah kurang etika bila aku tak meminta pendapat dokter bedahku terkait niatan berobat ke Malaysia. Namun, ada benih khawatir pula yang muncul jika seandainya ia berpikir aku tak percaya dengan kemampuannya. Tapi ini mesti kusampaikan dengan berat hati.

“Boleh saja, ini pilihanmu. Tapi saya perlu sampaikan, taksiran biaya perawatan bedah saraf pada kasusmu ini bisa mencapai dua puluh lima hingga seratus juta, bisa pula lebih. Sedangkan di sini semuanya bisa gratis dengan BPJS. Pilih yang mana?”

Alhamdulillah, ia cukup pengertian. Tak hendak menyalahkan, malah memberikan pilihan-pilihan tanpa memaksakan. Semua terserahku. Dan aku tetap memilih ikhtiar berobat ke Malaysia.

Niat hati, aku hanya ingin sekedar mengetahui apakah infeksi ini benar-benar telah menembus tulang kepala. Atau masih di luar tempurung kepala. Selebihnya bila ternyata biaya perawatan sampai sebesar itu dan aku tak sanggup, aku akan kembali dan menemui takdirku di tangan bedah saraf RSUDZA.

Sejauh ini, masalahku terdengar cukup pelik. Tapi, aku masih percaya bahwa hari-hari yang akan datang pasti akan diuji dengan ujian yang jauh lebih pelik lagi. Bila kutangisi, tak cukup semangkuk menampung air mata. Justru setelah aku berkenalan dengan berbagai persoalan pelik yang menghampiri, aku semakin bisa mengontrol air mata. Tak boleh ada air mata yang menetes untuk masalah dunia.

Setetes air mata itu lebih mahal untuk menangisi cobaan dunia.
______

*Apa kisah ini perlu dilanjutkan teman?  

Wednesday, November 7, 2018

Menggarap Proyek Kebahagiaan Di Keluarga Kecilku



2016 lalu prestasi tertinggi telah kuraih. Telah kutikam rasa takut, setelah sebelumnya berhadapan dengan rasa takut saja aku takut. Kunikahi seorang wanita yang kuyakini adalah pendamping yang paling tepat menemani perjalanan yang tak mungkin mulus. Apalah daya, kusadari betul perjalanan ini memang mustahil mulus. 

Selanjutnya, hari-hari ke depan pasti berat. Bukan berat biasa, tapi berat yang bertumpuk-tumpuk.

Dokter Juna (bukan nama asli) adalah satu dari beberapa orang yang amat keras melarang keputusanku menikah di saat-saat studi co-ass belum lagi rampung. Sehari semalam pesan petuah Dokter Juna tak henti-henti masuk ke inbox tanpa boleh kurespon sedikitpun.

Baca! Renungkan! Itu saja titahnya.

Kotak inbox penuh berderet dari orang yang sama, Dokter Juna. Kuanggap ini tanda cinta dari seorang dosen  yang khawatir akan kehidupan anaknya. Meski kemudian makna di balik pesan ini ternyata adalah alarm bencana. Justru cobaan berat itu menghantam pertama kali datang dari dirinya.

Reaksiku selalu sama seperti biasanya saat acapkali masalah menghampiri. Kucukupkan dengan sebuah gumam,

“Oh ini, masalah sangat besar yang pertama kali kuhadapi di awal pernikahanku. Justru datangnya lebih awal dari yang kukira, seminggu sebelum akad. Datangnya dari orang yang memberi petuah tentang rumitnya menikah. Tetapi Beliau pula yang andil menyuguhkan kerumitan pertama, cukup dalam, dan kalang kabut dibuatnya”

Untuk setiap masalahku ingin kuteriakkan; sebesar apapun dirimu selama kau tak sampai membunuhku, kau bisa kukalahkan! Tersenyum dan optimis malam gelap pasti berganti mentari cerah. Bukankah pil pahit adalah obat paling mujarab. Aku harus menelannya.

Kehidupan selanjutnya adalah hari-hari menelan pil pahit. 

Selamat menikmati!

Tuesday, September 4, 2018

Mencekam! 7 Tokoh Dipersekusi Massa Sepanjang Rezim Jokowi Berkuasa



Cepologis.com - Belakangan kata persekusi begitu santer terdengar ditelinga. Apa persekusi itu? Berdasarsarkan kamus besar bahasa Indonesia persekusi adalah perburuan sewenang-wenang terhadap seseoranmg atau sejumlah warga, yang kemudian disakiti, dipersusah atau ditumpas.

Beberapa persekusi bahkan dilakukan di objek vital yakni bandara, yang sesungguhnya wilayah itu mesti dijaga keamanannya. Berikut ini cepologis beberkan 7 tokoh dan ulama yang mengalami persekusi yang terjadi sepanjang rezim Jokowi versi cepologis.

1. Fahri hamzah



Pada tanggal 13 Mei tahun 2017, Fahri berkunjung ke Manado, Sulawesi Utara menghadiri undangan Gubernur Sulawesi Utara, Olly Dondokambey. Wakil Ketua DPR ini mengalami persekusi oleh massa waktu itu.

Ia mengungkapkan, sebelum kedatangannya di Manado telah beredar poster terkait acara yang akan dihadirinya. Massa yang menolak mengetahui jadwal kedatangannya. Massa saat itu mengira dirinya datang ke Manado sebagai perwakilan ormas Front Pembela Islam (FPI).

Pada malam sebelum kedatangan Fahri, Olly mengundang sejumlah perwakilan ormas kepemudaan yang akan turut serta dalam acara.Penolakan terhadap kedatangannya justru bermula di media sosial, bukan dari organisasi kepemudaan yang diundang dalam acara yang akan ia hadiri. 


Saat Fahri tiba di Bandara Sam Ratulangi, ternyata massa yang menolaknya sudah masuk ke dalam dengan membobol pagar. Dengan membawa senjata tajam.

Suasana bandara saat itu cukup mencekam. Ngeri ya

Penolakan kedatangan Fahri itu mulai diserukan sejak sehari sebelum kejadian. Fahri akhirnya hanya beberapa jam di Manado. Ketika sempat keluar dari bandara, dia hanya berkunjung sebentar ke Kantor Gubernur Sulawesi Utara.

Dalam setiap orasi yang disampaikan, massa menolak Fahri karena dianggap kerap melontarkan pernyataan yang memicu intoleransi.

2. Felix siaw




Penceramah muda yang juga populer sebagai penulis buku ini mengalami penolakan saat hendak berceramah di Bangil, Pasuruan, Jawa Timur. Peristiwa itu terjadi pada, hari Sabtu 4 november 2017 silam.

Felix ditolak oleh sejumlah badan otonom ormas Islam Nahdlatul Ulama (NU) Bangil seperti GP Ansor dan Banser. Mereka menolak digelarnya ceramah Felix di Masjid Manarul Islam, Bangil itu dengan alasan Felix enggan menyepakati dan menandatangani tiga poin yang diajukan yakni mengakui pancasila dan NKRI, tidak menawarkan konsep khilafah dan meninggalkan organisasi HTI karena telah dibubarkan pemerintah.


Sementara itu melalui akun Instagram pribadinya, Felix mengatakan bahwa sehari sebelum acara, kesepakatan soal ceramahnya sudah selesai. Namun saat tiba di Masjid Manarul Islam, orang-orang sudah ramai berkumpul melakukan penolakan. 

Penulis buku 'udah putusin aja!' itu juga mengklaim bila menandatangani surat tersebut berarti dirinya mengakui bahwa apa yang dituduhkan kepadanya adalah benar.

Penolakan ini bukanlah yang pertama, sebelumnya kehadiran Felix di Semarang juga ditolak oleh sejumlah ormas.

3. Khalid Basalamah



Peristiwa penolakan dan pembubaran pengajian Ustaz Khalid Basalamah terjadi di Sidoarjo, Jawa Timur pada hari Sabtu 4 maret 2017 silam. Penolakan ini dilakukan oleh GP Ansor Sidoarjo yang menilai ceramah Ustaz Khalid kerap memojokkan aliran tertentu.

Dikutip dari situs resmi NU, ketua GP Ansor Sidoarjo, Rizza Ali Faizin mengatakan yang dipermasalahkannya adalah isi dan materi ceramahnya bukan pengajiannya.

Penyampaian dan materinya itu cenderung mendiskreditkan aliran tertentu. Bahkan untuk pemanggilan Sayyidina untuk Nabi Muhammad juga tidak diperbolehkan olehnya.

Penolakan dilakukan ketika ceramah yang diberikan Ustaz Khalid tengah berlangsung. Ceramah yang bertema "Manajemen Rumah Tangga Islami" itu juga sempat live streaming di situs Youtube.

4. Ustad Abdul Somad



Peristiwa persekusi yang dialami oleh Ustaz Abdul Somad terjadi saat dirinya hendak berceramah di Bali. Pada hari Jumat 8 Desember 2017. Ustaz Abdul Somad didatangi oleh sekelompok orang yang memintanya mencium bendera merah putih dan menyanyikan lagu Indonesia Raya. Situasi di luar hotel tempat Abdul Somad menginap juga kian tak kondusif karena adanya massa yang melakukan penolakan.

Kapolresta Denpasar dan Dandim ikut menenangkan suasana dan meminta Abdul Somad untuk mempertimbankan keselamatan umat. Pasalnya, di Masjid An-Nur yang menjadi lokasi ceramah, sudah ada 5.000-an jamaah yang siap datang ke hotel.

Akhirnya setelah salat Isya, Abdul Somad dan rombongan menuju ke Masjid An-Nur untuk memberikan ceramah sekitar 100 menit.

Buntut dari peristiwa ini, sejumlah pihak dilaporkan ke polisi karena telah melakukan persekusi terhadap Ustaz Abdul Somad.

5. KH Tengku Zulkarnaen



Situasi tidak kondusif terjadi saat Ustaz Tengku Zulkarnain hendak berceramah di wilayah Sintang, Kalimantan Barat, pada hari Kamis 12 januari 2018 silam. 

Ketika pesawat yang ditumpangi Ustaz Tengku zulkarnain mendarat di Bandara Susilo, Sintang, warga sudah memenuhi runway bandara menolak kedatangannya.

Pihak kepolisian lalu datang dan mengamankan lokasi. Setelah kondisi kondusif Ustaz Tengku tidak lama kemudian kembali ke Pontianak.

6. Ahmad dhani



Musisi Indonesia yang juga aktivis 2019 ganti presiden, Ahmad dhani, merasakan diperlakukan tak adil saat menginap di Hotel Majapahit. Saat tiba di sana, dirinya mendengar informasi mobil komando yang akan digunakan untuk acara deklarasi #2019GantiPresiden diancam dibakar massa dan langsung disita oleh pihak keamanan setempat.

Ahmad Dhani mengakui keheranan karena mobil komando dari massa yang menolak kedatangannya malah dibiarkan oleh pihak kepolisian.

Karena itu, Dhani mengendus adanya kerja sama sistematis antara massa dengan pihak aparat keamanan yang membiarkan mereka melakukan aksi di depan hotel.

Ahmad Dhani juga keheranan saat petugas keamanan meminta dirinya untuk meninggalkan lokasi dan kembali ke Jakarta.

7. Neno Warisman



Aktivis gerakan #2019GantiPresiden Neno Warisman kembali mengalami persekusi. Dia dihadang saat akan melakukan deklarasi #2019GantiPresiden di Pekanbaru, Riau, pada Sabtu (25/8/2018).

Saat itu ia dihadang massa dan tak bisa keluar dari Bandara Sultan Syarif Kasim, Kota Pekanbaru. Setelah tertahan lebih kurang delapan jam di gerbang bandara, akhirnya Neno Warisman kembali ke Jakarta.

Neno Warisman terbang ke Pekanbaru untuk mengikuti gelaran deklarasi #2019Ganti Presiden yang akan digelar pada Ahad (26/8/2018). Dia tiba pada Sabtu (25/8/2018) di bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru.

Bagi Neno, ini bukanlah kali pertama dirinya ditolak saat hendak mengikuti kegiatan deklarasi #2019GantiPresiden. Sebelumnya pada 28 Juli lalu, Neno bersama rombongannya pun diadang massa saat akan menggelar deklarasi tersebut di Batam, Kepulauan Riau.

Kala itu, Neno dihadang massa yang menolak kedatangannya di luar Bandara Hang Nadim, Batam. Neno yang tiba di bandara tersebut sekitar pukul 17.00 WIB pun tertahan di sana sebelum akhirnya bisa keluar dari bandara lepas tengah malam.

Tonton video lengkapnya.





Saturday, September 1, 2018

Berbahaya! Hati-hati Dengar Ceramah Nikah Muda dari Ustad dan Motivator



Cepologis.com - Suatu ketika, dalam sebuah pertemuan organisasi dengan senior kampus, saat hendak mengambil buku tulis dari dalam tas, tanpa sengaja terambil buku bertema pernikahan. Saya tidak sebutkan judulnya, khawatir nanti dikira promosi. Seorang senior yang dianggap cukup bijaksana melihat sekilas buku tersebut dan berubahlah air mukanya.

Setelah memilih kata-kata, ia berujar dengan penuh penekanan yang intinya adalah mempersoalkan antara lemahnya semangat pergerakan mahasiswa dengan kebiasaan membaca buku-buku mellow bertema pernikahan yang notabene isinya melulu anjuran menjaga diri dan semangat untuk menikah.

Menurutnya, buku-buku bertema semacam itu haram bagi aktivis pergerakan. Dapat menurunkan produktifitas dan bisa menyibukkan diri dengan perkara yang sia-sia.

Senada dengan pandangan senior di atas. Beberapa orang tua menuding, penyebab anak-anak lajang mereka di usia muda sudah mengutarakan keinginan menikah dikarenakan buku-buku dan ceramah-ceramah motivasi dari ustad untuk menikah muda.

Jadi, ini sesuatu yang dianggap salah.

Dalam sebuah acara seminar pra nikah yang diadakan organisasi kampus, pernah ada seorang wanita berdiri, berbicara begitu berapi-api menyudutkan, menyalahkan dan menyematkan kepada pemateri sebagai dalang bagi lemahnya pergerakan mahasiswa.

Menurut anda tepatkah jalan pikir wanita peserta seminar tersebut terlepas dari perilaku mengkritik dan menyudutkan di hadapan umum?

Baik, saya ingin menyampaikan perspektif yang berbeda terkait adakah hubungan sebab akibat antara motivasi untuk menikah dengan produktifitas.

Saya tidak ingin berbicara dalil naqli di awal-awal. Sebab berbicara dalil seringkali dianggap tak boleh dibantah dan habis perkara. Saya memulainya dengan logika sederhana. Pertanyaannya benarkah menikah itu menurunkan produktifitas?

Justru terbalik. Biasanya mereka yang telah menikah, akan sibuk menelurkan karya. Memberikan yang terbaik dan selalu ingin membuat bangga pasangan hidupnya. Benar tidak?

Produktifitas itu lahannya beda-beda. Ada yang produknya karya tulis, ada juga produk sosial kemasyarakatan, ada kreatifitas konten, dan ada beragam lainnya sesuai dengan profesi dan minat masing-masing orang. Mari luaskan pandangan. Setiap orang berkarya ditempat yang berbeda.

Menganggap menurunnya produktifitas karya disebabkan oleh banyak membaca buku-buku bertema pernikahan adalah salah besar, pun juga tidak berdasar.

Omong-omong setelah sang senior menegur saya karena membaca buku bertema pernikahan, esok harinya semua buku bertema pernikahan saya bakar. Wahh, sayang banget ya.

Lalu, apa yang terjadi? Tidak terjadi apa-apa. Bahkan ada atau tidaknya buku-buku tersebut tidak menambah atau mengurangi semangat saya dalam berorganisasi di kampus.

Meski bukunya hangus, saya masih sangat mengingat persis sedikit banyaknya isi dari buku-buku tersebut. Bukan apa-apa, itu bacaan saat saya masih duduk di bangku SMP. Kebetulan sepulang sekolah saya berkerja di toko buku. Jadi saya bebas melahap semua buku-buku yang ada, termasuk buku bertema pernikahan yang cukup membekas di benak.

Harusnya saya sudah mellow dan tidak produktif sejak dulu. Tapi nyatanya, tidak begitu. Silahkan di cek masa lalu saya. Teman dan guru-guru mengenal saya sebagai pribadi yang penuh gairah dan produktif baik di bidang akademis maupun organisasi kemasyarakatan. Bukannya sombong ya. Yah, hanya sedikit angkuh. Hehe.

Lantas anda bertanya-tanya. Mengapa sampai sekarang saya belum lulus-lulus profesi. Dan apalagi transkip nilai S1 saya dipenuhi rantai carbon (C), Hehe. Anda pasti berpikir, meski tidak mengucapkan, tapi tetap muncul di benak bahwa inilah akibat dari keputusan menikah muda apalagi dengan calon istri yang juga masih kuliah.
    
Anda salah BESAR!

Saya ingin membahas khusus, penuh kejujuran, dan menyeluruh antara hubungan menikah dengan prestasi kuliah yang biasa diukur dengan IPK. Tapi bukan di sini. Lain kesempatan.     

Berbahayakah  Ceramah atau Motivasi Menikah Muda?


Yang jelas-jelas berbahaya itu adalah ajakan menjalin hubungan antara lawan jenis tanpa ikatan yang halal. Sampai di sini kita harus sama-sama bersepakat. Bila tidak, anda berada di bacaan yang salah. Sebab basis tulisan ini berangkat dari hal itu. Saya tidak akan berpanjang kali lebar kali luas kali tinggi mengurai dalil haramnya hubungan tanpa “status” serta dampak negatifnya.

Coba anda pikirkan sejenak. Solusi jitu apa yang dapat menghapus kebiasaan pacaran yang telah menjadi lumrah pada kebanyakan anak muda zaman ini?

Cukupkah dengan anjuran berpuasa?

Ya, tidak cukup. Tahukah anda, solusi berpuasa itu disabdakan oleh Nabi Muhammad dalam haditsnya pada urutan ke dua. Yang pertama adalah menikah. Ingat sekali lagi, solusi pertama dan utama dari Nabi adalah menikah. Bila belum mampu, berusahalah untuk mampu. Sembari berusaha, berpuasalah.

Mengapa saya begitu menekankan hal ini. Sebab ada beberapa orang yang mengatakan solusi yang harus digencarkan adalah puasa saja, sembari menyalahkan para motivator penganjur menikah muda. Ini tidak tepat.

Anda harus memahamai anatomi nafsu. Dan betapa berbahaya letupannya itu. Maka obat paling jitu adalah menikah. Namun kita paham, menikah tidak semudah membalik telapak tangan. Oleh karena itu berikanlah semangat dan jalan kepada kaum muda untuk mempersiapkannya.

Saat ada yang bertanya, jadi saya harus berpuasa setiap hari mengingat tiada hari tanpa memikirkannya? Anda mau jawab apa. Siapa yang sanggup. Puasa rutin senin kamis saja beratnya bukan main.

Jadi tujuan dan solusi utamanyanya adalah menikah. Puasa hanyalah upaya sementara membentengi diri selama mempersiapkan diri untuk menikah. Bila tak kuasa berpuasa menahan lapar dan haus setiap hari. Makan dan minumlah. Tapi anda harus “puasa” dari hal-hal yang diharamkan setiap harinya. Semangatnya adalah menuju pernikahan.

Kalau disuruh puasa-puasa saja dan itu dilakukan entah sampai kapan, tanpa motivasi untuk menghalalkan. Bagaikan dalam sebuah perjalanan. Sudah jelas tempat yang dituju ada, tapi gak tau rute dan jaraknya seberapa jauh, dan gak tau kapan akan sampai.

Kira-kira anda sanggup bertahan melakukan perjalanan itu? Saya sih enggak sanggup.

Meski begitu, ada yang perlu dikoreksi dari para motivator pernikahan sejauh ini. Yaitu rintangan-rintangan yang tidak mudah dan diluar dugaan setelah menikah perlu disampaikan secara utuh. Agar mereka yang bersemangat menikah tidak sekedar panas-panas tanpa persiapan mental yang matang menghadapinya. Ini jadi tanggung jawab besar bagi seorang motivator.

Saya pun merasakan demikian. Namun, jauh sebelum saya menikah, saya sudah membayangkan berada pada titik paling menyedihkan dari konsekuensi sebuah pilihan menikah. Jadi, saat rintangan berat itu benar-benar terjadi, mental telah siap dan saya sanggup melewatinya.  

Nah, rintangan berat apa yang saya hadapi setelah menikah? Dilain waktu saya akan berbagi. Itupun hanya untuk anda yang butuh sebagai refleksi dan pelajaran.

Jadi ayah bunda, para orang tua, jangan khawatir anak lajangnya meminta menikah muda. Justru ayah bunda harus menanamkan semangat menjaga diri dan mempersiapkan diri mereka sedini mungkin terkait segala hal yang dibutuhkan menuju pernikahan.     

Tuesday, August 14, 2018

Susah Memulai Tulisan? Coba 5 Tips Mudah Mengawali Tulisan Untuk Pemula



Cepologis - Mengawali tulisan menjadi kendala berat bukan hanya bagi penulis pemula saja, bahkan bagi sebagian penulis kawakan. Namun, jika sudah berhasil memulainya, biasanya akan nagih dan susah berhenti. Iya enggak?

Pada saat mulai mengetik, otak seolah-olah akan berjalan dalam mekanismenya sendiri. Menakjubkan. Otak dengan sendirinya akan menggembalakan pikiran-pikiran kemanapun. Hingga ide dapat terolah dan tersusun sesuai dengan keinginan atau bahkan tidak sesuai dengan keinginan. Disinilah serunya.

Lalu bagaimana sih menulis yang baik dan cara memulai tulisan? Kesulitan dalam memulai tulisan akan dapat teratasi kalau kamu tau tips dan trik memulai tulisan. Berikut Cepologis akan bantu kamu menemukan teknik sederhana dalam memulai tulisan.

1. Temukan Ide dan Gagasan

Sebelum memulai menulis, terlebih dahulu tentukan ide dan gagasan pokok apa yang ingin kamu uraikan nanti dalam tulisanmu. Gak perlu muluk-muluk. Mulailah dari hal sederhana di sekeliling kita. Begitu banyak inspirasi di sekitar kita yang bisa kita jadikan sebagai bahan tulisan.

Contoh mudahnya, mungkin kamu tadi baru saja dimarahi sama tetangga sebelah, kucingmu mati tertabrak mobil truk, dipecat dari tempat kerja atau bahkan kamu melihat daun yang jatuh. Untuk yang terakhir, bayangkan saja, daun jatuh saja bisa jadi judul novel Tere Liye, “Daun yang jatuh tidak pernah membenci angin”. Dari  ide sederhana saja bisa jadi judul novel bukan. He he.

2. Membuat Kerangka Tulisan   

Cara ini sangat membantu, terutama bagi kamu yang sering lupa. Kerangka ini juga membantumu memandu mana yang lebih dahulu ditulis mana yang di pertengahan dan mana yang ditempatkan di bagian akhir tulisanmu. Kerangka ini berfungsi supaya kalaupun tulisanmu melebar tapi tidak terlalu jauh.

Saya sangat terbiasa menggunakan peta pikiran, kerangka dan point-point sebelum memulai tulisan. Termasuk bahkan nama-nama istilah yang nanti bakal saya gunakan di dalam tulisan. Ini sangat-sangat membantu.


3. Berdiskusilah Terkait Topik

Setiap sebelum memulai tulisan, saya hampir selalu mendiskusikan mengenai topik tulisan tersebut terlebih dahulu kepada istri. Dari diskusi tersebut bisa lahir ide-ide segar yang baru yang akan menambah bobot bakal tulisan kita nantinya. Yang belum punya pasangan buat diskusi, yah saya sarankan menikahlah. Ops! Kamu bisa melakukannya dengan sahabatmu, gurumu atau orang tuamu kok.


4. Mulailah Menulis

Begitu banyak artikel-artikel di internet yang mengajarkan cara belajar mengarang, bagaimana menulis artikel yang baik, tips dan trik menulis dan bagaimana cara menulis buku. Namun bagaimanapun kita rajin membacanya jika tak dibarengi dengan action ya, semua sia-sia. Maka mulai sekarang mulailah menulis.

Kalau kamu bingung dari mana kamu memulai tulisan, mulailah dari deskripsi. Cobalah deskripsikan suasana hati, tokoh atau background lokasi, atau kamu bisa mulai saja dari alasan mengapa memilih topik tersebut sebelum masuk kepada topiknya.

Memulai tulisan dengan fakta yang kita ambil dari berbagai sumber berita, baik itu koran atau televisi menjadi daya tarik tersendiri bagi pembaca loh. Misalnya kamu akan mulai dengan fakta, 

Tidak banyak orang tahu, film-film Bollywood bukan hanya telah banyak memunculkan bintang-bintang ternama semisal Shahrukh khan, Salman Khan, Amir khan, Hrithik Roshan, Katrina Kaif, Deepika Padukone dan lain lain. Ternyata di tahun 2012 India mampu memproduksi film hingga mencapai 1000 film selama setahun, termasuk penyumbang besar film diantaranya adalah rumah produksi Bollywood. Itu artinya ada kurang lebih 83 film dalam sebulan di produksi dan hampir 3 film per harinya. Indonesia berapa film ya kira- kira?


5. Istirahat Sejenak

Kamu bisa melakukan gerakan-gerakan rileks keluar rumah atau menghirup udara taman di sela-sela tulisanmu. Hanya beberapa menit saja. Ini dilakukan agar sejenak pikiran menjadi fresh kembali dan penat yang bertumpuk menghilang. Hal ini penting untuk menjaga semangat menulis. Terlalu diforsir juga tidak baik.


Sudah siap memulai tulisanmu?
Salam Super Pegel!

Saturday, August 11, 2018

Cara Membuat Sendiri (DIY) Softener atau Pelembut Pakaian dari Bahan Alami Homemade



Cepologis.com - Pelembut pakaian wajib digunakan untuk menjaga kualitas pakaianmu tetap baik, terutama jika kamu memiliki banyak pakaian berbahan katun atau wol. 

Pelembut pakaian umumnya mengandung bahan kimia beracun, sehingga jika kamu ingin membersihkan pakaianmu dari bahan kimiawi beracun yang berasal dari softener/pelembut pakaian pabrikan yang biasa kamu gunakan, kamu bisa mempraktekkan trik untuk membuat sendiri softener mu dari bahan alami. 

Kamu bisa coba resepnya di bawah ini :

Resep cara membuat softener/pelembut pakaian

Peralatan dan bahan yang diperlukan:
- ½ cangkir air hangat
- ½ cangkir cuka bening
- 2 sendok makan Baking soda
- Beberapa tetes minyak esensial

Cara Membuat :
Di dalam mangkuk, masukkan air hangat dan baking soda, tambahkan cuka dan tunggu hingga busa yang muncul mereda.

Tambahkan minyak esensial dan aduk rata. Gunakan ½ cangkir softener/pelembut  untuk satu ember penuh pakaian.

Nah, Bagaimana tips dan trik cara membuat softener/pelembut pakaian diatas? Mudah Bukan?


DIY Homemade Eyeliner Gel dengan Bahan Dapur yang Bisa Kamu Praktekkan di Rumah



Cepologis.com - Seperti yang mungkin sudah kamu ketahui, eyeliner itu ada beberapa macam. Nah, namun yang akan kita buat sendiri ini adalah gel liner. 

Eyeliner gel biasanya dijual dalam pot kecil dengan brush aplikator yang sesuai. Kamu memang dapat membelinya di supermarket atau  hypermart terdekat, dan  tentu saja kesemuanya sangat mudah untuk digunakan dan bersifat lebih tahan lama di bandingkan dengan eyeliner pensil.


Tapi, jika kamu membeli eyeliner pabrikan di pasaran, kamu akan menjumpai harga yang relatif mahal dan mengandung beberapa bahan yang beracun. 

Jadi, bagaimana jika kita membuat sendiri eyeliner dengan bahan alami yang ada di dapur? Yuk lihat resepnya di bawah ini.

Yang kamu butuhkan:
- 5 sendok makan gel lidah buaya/aloe vera (base)
- 1 sendok the vitamin E (pengawet)
- 2 sendok makan bubuk arang (pewarna)



Di dalam mangkuk, masukkan gel lidah buaya dan vitamin E. Pastikan bahwa bahwa gel lidah buayanya tidak bergumpal. Tambahkan bubuk arang dan aduk hingga rata. Tes sebelumnya untuk memeriksa tekstur.

Simpan gel di dalam botol jar sesuai dan gunakan gel eyeliner dengan semestinya. Simpan gel eyeliner buatanmu di tempat yang kering dan sejuk.


Baca: 9 Tutorial Make Up Cantik Ala Korea Yang Harus Kamu Coba

Cara Membuat Homemade Makeup Setting Spray Yang Dapat Kamu Praktekkan di Rumah!



Cepologis.com - Jika kamu merupakan seorang pegawai kantoran yang rutin menggunakan makeup sehari-hari, alangkah baiknya jika kamu memiliki setting spray mu sendiri agar makeup yang kamu gunakan tidak lekas luntur, sehingga kamu perlu melakukan touch up berkali-kali. Selain untuk mempertahankan tampilan riasanmu, makeup setting spray juga bisa menyumbat pori-pori kulit wajahmu, sehigga membuatmu menjadi sangat rentan berjerawat.

Nah,jika kamu menginginkan makeup setting spray dengan formula yang tidak menyumbat pori namun tetap worth it, kamu bisa mencoba membuat sendiri makeup setting spray mu dengan resep di bawah ini.

Manfaat :
Witch hazel-memiliki khasiat untuk menyegarkan kulit, tidak menyumbat pori dan kandungannya dapat membersihkan kulit karena memiliki kandungan anti mikroba alami, mengecilkan pori, membantu mengurangi minyak, dan mencegah jerawat serta masalah lainnya terutama yang berhubungan dengan bakteri karena penggunaan alat makeup, terutama brush.
Air mawar memiliki kandungan antimikroba dan anti inflamasi.

Yang kamu butuhkan:
½ cangkir witch hazel dan ½ cangkir air mawar

Cara membuat:
Di dalam botol spray, masukkan witch hazel dan air mawar

 Witch hazel 
Air mawar

Kocok dan biarkan hingga semua bahan larut.
Kamu bisa menggunakannya sebagai makeup setting spray.

Selain digunakan setelah wajahmu dipoles makeup untuk menjaga keawetan riasanmu, kamu juga bisa menggunakannya sebelum menggunakan makeup untuk menutrisi kulit dan mencegah jerawat.