Monday, July 16, 2018

Bidadariku, Maafkan Aku


Semakin jauh, semakin rindu berlabuh. Seperti yang kau kira. Benar, cinta tak dapat kukubur. Bila kubunuh, semakin ia tumbuh. Bila kubakar, semakin bunganya mekar. Bila kuremuk, semakin hijau ia ke pucuk. Abadikah pohon cintaku padamu?

Keinginan memilikimu bertemu dengan ketidakberdayaan diri, taukah kau rasanya? Perih menggamit. Lagipun darimana aku tau kau memendam hal serupa kepadaku. Jangan paksa aku untuk merasa-rasa. pikiranku dikuasai logika. Aku bukan ahli nujum. Tak bisakah sinyal itu mampir saja di mukaku. Agar kubulatkan tekad kunjungi ayahmu.

Bidadariku,

Tahukah kau sudah berapa kali namamu kutakbir, rukuk dan sujudkan bersama sederet nama lainnya. 99 kali banyaknya. Tak hendak kugenapkan jumlahnya karna kuyakin tetap namamu yang akan unggul. Keyakinanku mantap tapi keberanianku yang hilang. Aku memang pemuda sial. Aku tak pantas untukmu. Bahkan untuk siapapun.

Bidadariku,

Tak sedang goyah usahaku menghalalkanmu. Tapi hatiku bagai pualam. Berulangkali mahar kau ringankan, tapi keinginanku memberimu lebih, gebu menggebu. Begitulah, lagi-lagi keinginanku bertemu dengan ketidakberdayaan diri adalah perih yang menggamit. Bukan salahmu.

Bila kau bertanya, urusan mahar sajakah? Aku jawab, ya.
Kau tanya lagi, adakah yang lain? Aku jawab, ya.

Hanya satu saja lagi. Aku tidak siap gagal. Aku tak ingin ke gelanggang membawa sekuntum mawar merekah, pulang-pulang bunga layu masih digenggaman, kering dan patah. Maafkan aku bidadariku. Aku lelaki lemah. Tak pantas mendampingimu. Tak pantas pula untuk siapapun.

Andai bisa, ingin kulamunkan bersama ombak hati yang ringkih ini. Tak bisakah Salman Alfarisi mewarisiku keteguhan dan gagahnya sikap ketika ditolak oleh wanita.

Bidadariku,

Bila nanti ada lelaki saleh yang lebih matang, lebih menarik dan lebih bernyali untuk mendampingimu. Kuikhlaskan kau dengannya. Kuharap ada sosok, meski entah kapan waktunya yang akan jadi pendampingku sebaik dirimu.

Meski begitu, pucuk cinta tak dapat kutampik. Tumbuhnya hanya mengarah kepadamu. Maafkan aku bidadariku. Sampai detik ini masih kukumpulkan nyali untuk bertandang ke rumahmu. 

____
Menyambung lisan Pangeran Tak Berdaya
@DCHabibillah


Lagu Lagi Syantik Populer dan Apa Hubungannya Dengan Nikita Mirzani


Ketika saya menuliskan tentang kecantikan para artis dunia di artikel (Di sini) Ada banyak yang heran. Begitu mahirnya saya melukiskan detail pada bagian mana saja nilai kecantikan mereka. Mereka anggap saya benar-benar mengenal sosok artis tersebut.


Saya culik cuplikannya untuk anda berikut, "Menurut sebagian orang wanita cantik adalah yang memiliki rambut pirang seperti Shakira, bibir penuh dan tulang pipi tinggi seperti Angelina Jolie, hidung kecil seperti Miranda Kerr, alis seperti Kate Middleton dan dagu seperti Megan Fox. Sedangkan menurut yang lainnya definisi wajah cantik adalah ketika wanita memiliki rambut hitam seperti Freida Pinto. Wanita juga disebut ideal ketika tulang pipinya halus seperti Keira Knightley, hidung seperti Blake Lively, bibir sensual seperti Scarlett Johansson dan alis seperti milik Cara Delevingne. "


Saya hanya membacanya dari sebuah artikel lalu menyertakan dalam tulisan saya sebagai penguat dan ilustrasi. Saya bahkan tidak pernah mendengar apalagi mengenal mereka kecuali Angelina Jolie. Itu pun karena seorang teman kerap bercerita tentang idolanya Brad Pitt yang kebetulan menikahi Angelina Jolie. Sekarang sudah bubar. Anda tidak percaya? Percayalah!


Lagu Lagi Syantik sedang populer akhir-akhir ini seiring dengan populernya aplikasi tik tok. Lagu yang dinyanyikan oleh Siti Badriah ini konon terinspirasi dari sosok peri aneh di sosial media. Dialah mimi peri. Lantas Syahrini yang selalu diasosiasikan dengan kata-kata syantik merasa jengah. Ributlah jagat media. 

Enggak penting banget! Cukup ya, tulisan saya no gossip. Blog saya terlalu mulia daripada sekedar membahas kacang goreng.

Tapi pembahasan kacang goreng justru banyak penikmatnya. Komoditi untuk menghasilkan pundi-pundi rupiah. Maju terus gossip! Mundurlah ilmu dan peradaban.

Itulah mengapa Lagu Lagi syantik ini tiba-tiba bisa naik, terlebih karena kecantikan adalah nilai yang kerap diusahakan. Produk-produk kecantikan begitu laris keras di pasaran. Menjadi cantik butuh pengorbanan bahkan nyawa. Melalui jalur operasi. Jika Gagal, nyawa melayang. Operasi plastik memang ngeri-ngeri sedap tetapi mulai digandrungi oleh remaja masa kini. Supaya dikenal banyak orang. Lagi-lagi selain pujian, pundi-pundi rupiah yang akan didapatkan.

Bila wajah kita tak ditakdirkan beruntung (baca: j-e-l-e-k), tidak masalah. Bila tak memiliki nurani, bangunlah kepercayaan diri yang tinggi. Mengakulah dan tetap bergayalah seperti orang cantik. Sombonglah dengan perasaan cantik anda. Belajarlah berhalusinasi dengan baik. Media akan mengakomodir anda untuk diorbitkan. Maka orang-orang akan tertawa dan terhibur. Sebagian besar akan mencaci maki anda. Percayalah semakin banyak yang memaki anda semakin anda dekat pada kesuksesan. Anda butuh haters sebanyak-banyaknya. Ini hukum populer. Saran saya silahkan diterapkan, tapi ingat! hanya untuk anda yang nuraninya telah mati.

Menurut saya, disaat banyak orang berusaha menjadi cantik dan atau merasa-rasa diri paling cantik dan saat lagu lagi syantik sedang boomingnya, Nikita Mirzani mengambil momentum pas sekali. Memilih pilihan paling tepat yaitu hijrah menuju kecantikan sesungguhnya. Kalau anda boleh jujur, mana lebih cantik, nikita sebelum atau setelah berhijab?

Allah Subhanahu Wata’ala, Tuhan kita yang kuasa, menurunkan perintah berhijab tidak sedang berusaha membuat anda menjadi tidak cantik dan kampungan. Lihatlah dengan mata hati dan nurani, seseorang yang berhijab, akan lebih terlihat cantik dan anggun. 

Pilihan hidup terbentang luasnya dihadapan kita. Anda mau menjadi apa silahkan. Bebas memilih. Tapi ingat, kebebasan seseorang akan dibatasi oleh kebebasan yang dimiliki orang lain. 

Setiap manusia memiliki empat anugerah; kesadaran diri, hati nurani, kebebasan dan imajinasi kreatif. Ini memberi kita kebebasan dan kekuatan untuk memilih, untuk merespon, untuk mengubah. (Stephen Covey)       

Friday, June 1, 2018

Sahabat Dipaksa Ceraikan Istri yang Dicintainya




Cepologis.com ~ Kira-kira jika anda diminta untuk menceraikan istri yang sangat anda cintai, apakah anda mau? Apa lagi jika alasan menceraikan karena anda terlalu mencintainya, Apakah anda sanggup?

Ini benar-benar terjadi pada salah seorang sahabat bernama Abdullah Bin Abu Bakar. Oleh sang ayah Abu Bakar As-Siddiq, Abdullah diminta untuk memutuskan ikatan cinta sucinya dengan istri yang sangat dicintainya, Atika.

Sungguh khawatirnya Abu Bakar menemui kenyataan betapa Abdullah memberikan perhatian yang dalam, matanya menyiratkan akan cinta pada atikah tengah menguasai seluruh hatinya. Ada takut yang mengendap, Abdurrahman melupakan Allah dan meninggalkan medan jihad.

Atikah, dalam riwayat adalah seorang wanita yang jelitanya diatas rata-rata. cantik bukan kepalang. Berkebetulan ia bersuamikan dari anaknya sang khalifah Abu Bakar As-Siddiq. Baik Atikah maupun Abdullah adalah sepasang suami istri yang saling mencintai. Tentu alasan cantiknya paras Atikah jadi salah satu alasan betapa Abdullah sedetikpun tak bisa lupakannya.

Demi mematuhi sang ayah, Abdullah tetap menceraikan Atika dengan nestapa yang melilit jiwa. Hatinya terburai sedih dan gundah menimpa pikirannya. Akhirnya, ia bersenandung dalam syair syahdu sambil mengenang Atikah.

Demi Allah, tidak mungkin dapat kulupakan dirimu
Walau mentari tak terbit tinggi lagi
Dan tidaklah terurai air mata merpati itu
Kecuali hati tengah berbagi

Tak pernah kudapati orang sepertiku
Menceraikan orang seperti dia
Dan tidaklah orang seperti dia ditalaq karena dosanya
Dia mulia dalam akhlak, kokoh dalam agama dan bernabikan Muhammad
Berbudi tinggi, pemalu dalam sifatnya dan halus tutur katanya  

Sebenarnya kekhawatiran Abu Bakar sangatlah berdasar. Akan tetapi Abdullah bukanlah pribadi yang mudah lupa dalam beribadah pada Allah dan suka mangkir dari medan jihad. Menyaksikan ketabahan keduanya, hati Abu Bakar menjadi iba. Atika dan Abdullah diizinkan rujuk kembali. Cinta kembali merekah ke pucuk-pucuk. Setengah hatinya telah menyatu. Dan Abdullah membuktikan kesatrianya dengan maju ke medan perang hingga ia menjemput kematiannya.

Secinta-cintanya Atika padanya, Allah lebih mencintai dan menginginkan Abdullah berada disisiNya.

Subhanallah. Semoga cinta yang ada pada selainNya tidak pernah menggeser posisi utama cinta kepadaNya.  

Friday, April 27, 2018

Terburu-buru Mengungkapkan Perasaan




Pertanyaan yang perlu anda jawab segera. Berapa harga yang anda inginkan bila hati dan perasaan anda dijual? Sebutkan nilainya. 1 juta? 100 juta? 1 milyar? 1 trilyun? Sebutkan saja. Jangan beranjak membaca tulisan sebelum anda menyebutkan. Sudah anda sebutkan? Mari kita lihat faktanya.

Saat ditanyai harga dari sebuah hati dan perasaan yang kita miliki, tentu hampir semua menjawab dengan harga yang tinggi. Bila ada nilai tertinggi, kita akan tetap mencari nilai yang lebih tinggi lagi, bahkan nilai itu bisa menjadi tak terhingga.

Demikianlah mulia dan sangat berharganya hati dan perasaan ini. Mengapa mudah sekali kita mengumbarnya dengan harga murah dan bahkan jadi tak lagi bernilai. Kita mengumbar hati dan perasaan kita seperti menjual ikan basah di pasar minggu. Adakah kita sadar bahkah kita tengah menikam prinsip hidup yang akibatnya - bila hati seumpama pohon - kita telah memangkas dahan-dahannya hingga hilang pesona bunga dan rerimbunan daunnya.

What’s wrong with you guys?

Terburu-buru mengungkapkan perasaan adalah seperti menjual hati dengan harga murah. Bila engkau seorang wanita, lelaki saleh mana yang mau membeli barang murahan yang dijajakan di emperan. Bila engkau seorang lelaki, wanita salehah mana yang menerima perasaan dan hati seorang lelaki playboy yang gemar membius seenak udel siapa yang disukainya.

Mengungkapkan perasaan tidak hanya melulu lewat kata-kata. Kadang-kadang dia tampil dalam bentuk ruh dan bersenyawa dalam setiap laku, tindak-tanduk yang mudah dibaca, senyuman yang tak biasa, pandangan yang penuh arti dan kegaduhan kecil yang timbul karena tiba-tiba muncul cemburu.

Hati-hati! Karena hatimu tengah dijajah oleh nafsu supaya mengungkapkan perasaan lewat cara-cara yang tidak terduga, tiba-tiba saja tanpa sadar kau telah kehilangan tampuk kedaulatan di singgasana hatimu.

Cara lain mengungkapkan perasaan dengan terburu-buru adalah dengan mengirimkan hadiah. Bukan dengan memberi seikat kembang merah dan sebatang coklat, sebab cara ini terlalu eksplisit menyatakan perasaan. Kita menggantinya dengan memberi hadiah berupa boneka, jam tangan, bahkan buku-buku tanpa sebab.

Di titik ini. Yakinlah sahabat. Bila ia benar wanita/lelaki saleh maka takkan mudah baginya menerima perasaan dan hati kita begitu saja. Kita harus dapat membedakan antara senang menerima hadiah dengan senang menerima pesan perasaan yang dititip lewat hadiah. Siapapun akan senang menerima hadiah. Ia pasti akan menyimpannya baik-baik selain juga sebagai bentuk dari menjaga perasaan si pemberi hadiah. Bukankah tak elok bila hadiah dikembalikan.

Pilunya, saat sudah dibanjiri hadiah, tapi perasaan tetap ditolak. Bunuhlah hayati di rawa-rawa bang! 

Tiba-tiba Ilfil 


Anda pernah mendengar kata ilfil? Yap, anak muda zaman sekarang kerap menyebut kata-kata ini. Berasal dari kata ‘ilang feeling (ilfeel)’ bisa diartikan sebagai perasaan tidak suka atau muak yang timbul. Terlepas dari perbedaan pengertian dan sumber, mari kita masuk pada substansi.

Hati-hati dalam ekspresi mengungkapkan perasaan. Alih-alih menebar pesona, eh malah ilfil yang didapat. Ini sama dengan coba-coba melempar manggis, pare yang dapat. Ngenes ya.

Menurut pengalaman saya dan istri. Dari hasil diskusi cantik di pagi yang segar. Kami menemukan kesamaan, dimana ilfil bisa muncul bahkan pada orang yang kita kagumi. Istri saya bagaimanapun perlu menceritakan, dahulu sebelum menikah banyak pria yang mengirimi hadiah mulai dari boneka, jam tangan, alquran, dll. Hadir di barisan pemberi hadiah itu orang yang dikaguminya. Serta merta menguaplah rasa kagum dari batinnya. Alih-alih semakin menyukai, yang timbul malah ilfil.

Tiba-tiba lamaran lelaki kurus, naïf nan kere seperti saya ini yang justru diterimanya. Yang tak pernah kirim hadiah, yang tak pernah ungkapkan cinta, yang tak pernah tampilkan rasa dalam laku, yang dingin saat bersua, yang kaku saat bicara. Tapi yakinlah, saya memiliki setidaknya dua sifat yang disukai para wanita di dunia. Humoris dan romantis. Heuheu… yang ingin muntah dipersilahkan!

Saya pun demikian. Bukan tidak pernah mampir rasa kagum pada sosok wanita. Tapi saat yang saya kagumi menjadi salah satu dari sekian orang yang terbaca memiliki perasaan yang ditampilkan lewat media komunikasi atau bahasa tubuh yang tak terduga kepada saya. Seketika kagum jadi menguap, perasaan sirna memunah dan terbitlah ilfil.

Lalu bagaimana caranya agar setiap orang bisa tertarik padamu. Daripada sibuk mengungkapkan perasan dan berkirim hadiah, baiknya anda coba praktekkan tulisan ini. 9 Trik Psikologis Agar Orang Tertarik Padamu

Demikian sahabat, bahayanya saat terburu-buru mengungkapkan perasaan. Dalam mengungkapkan perasaan lihat waktu dan caranya. Diwaktu yang tepat, saat anda benar-benar siap. Dan dengan cara yang tepat, lewat taaruf atau cara-cara syar’i yang diperbolehkan.


Nantikan tulisan-tulisan lengkap saya dalam buku Kacamata Majnun
Sabar. Belum bisa dipesan ya. Dukung dan doakan segera. Hehe... 



     
  
  



Tuesday, March 27, 2018

Menikah Karena Cinta atau Mencintai Karena Menikah, Pilih Yang Mana? (1)



Cinta dan pernikahan sulit dipisahkan. Kemanapun kau bawa cinta, muara indahnya adalah sejuknya pernikahan. Bila cinta tak bertemu di pelaminan, bagai kapal karam di lautan.

Tak selamanya cinta bertemu di pelaminan. Mari kita memaknai dan mendudukan rasa cinta.

Defenisi cinta memang beragam, setiap orang pasti memiliki pemaknaan masing-masing. Sebab itu maka cinta bila diurai panjang lebar kita takkan menemui ujungnya. Tinta akan habis, jari akan lelah dan jiwa terus menerus gundah.

Meski begitu, dalam hal ini baiknya kita satukan persepsi tentang cinta. Cinta adalah sebuah ketertarikan yang muncul antara dua orang lawan jenis dan bisa pula disertai keinginan untuk memilikinya. Seharusnya cinta akan berakhir dan dipersatukan di pelaminan.

Salahkah menikah karena cinta?


Tidak salah. Bisa kita pastikan tak ada satu dalil keharaman menikah atas dasar cinta. Yang justru kita temui adalah anjuran Nabi pada pasangan sebelum menikah untuk berta’aruf dan melihat adakah sesuatu yang dapat menimbulkan ketertarikan dan rasa cinta yang kelak dapat mengekalkan biduk rumah tangga.

Yang salah adalah ekspresi cinta sebelum akad. Dimana muda-mudi saling mengungkapkan rasa cinta tanpa ikatan dalam hubungan haram bernama pacaran.

Lalu pada sisi yang lain ada muda-mudi yang saling mencintai sedangkan tak melakukan hubungan dan komunikasi apapun, tetapi jiwanya rusak karena kerap memikirkan orang yang dicintainya. Menurunkan produktifitas dan mengganggu aktifitas baik ibadah murni maupun ibadah sosial. Ekspresi cinta yang begini, meski tak separah pacaran, terang saja tetap salah.

Cinta, yang terjadi kepada wanita cantik secara tak sengaja , atau tertarik kepadanya tanpa sengaja dan tanpa tujuan tertentu adalah boleh, tutur Ibnul Qayyim Al Jauzi dalam kitabnya Ad-Da’ wa Ad-Dawa’. Hatinya menjadi terkenang kepadanya namun tidak terjerumus kepada maksiat. Yang seperti ini tidak dihukum. Namun perlu dipastikan bahwa ia harus bersih hati dan sabar menghadapi cobaan.

Allah akan mengokohkan keimanannya dan tentu akan digantikan dengan sesuatu yang jauh lebih baik lagi atas kesabarannya menghadapi hawa nafsu dan lebih mengutamakan keridhaan Allah. Tidak cenderung kepadanya, mengingat-ngingatnya hingga seolah nyala semangat hanya saat melihat atau membayangkannya.

Justru bila kita mendapati ada pasangan yang berencana menikah, lalu salah satu diantara keduanya tidak menyimpan rasa cinta, bahkan ia merasa cintanya tengah tersandera karena ia sesungguhnya tengah mencintai orang lain, maka sebelum segalanya terjadi, hentikanlah!

Muawiyah membeli seorang budak wanita dan ia amat mengaguminya. Pada suatu hari ia mendengar gadis itu bersenandung beberapa syair:

Aku berpisah dengannya,

Bagaikan ranting dahan yang patah,
Tersungkur di bumi.
Daku terpaksa;
Dipaksa oleh seorang yang bercinta.  

Muawiyah menanyai gadis ini. Ia menjawab bahwa ia mencintai tuannya terdahulu. Muawiyah mengembalikannya kepada tuannya, tapi hati Muawiyah tetap masih terkesan olehnya. 

Duhai agungnya kegagahan orang yang menyatukan para pecinta. Biar hati terburai sedih, asalkan tak memaksa. Sebab cinta tak bisa dipaksakan. Berikan hak kepada orang yang kita cintai untuk bersatu dengan orang yang dicintainya. ( baca: Berhentilah Menginginkan Dia Yang Tidak Mencintaimu )

Abu Bakar, sahabat Nabi, di suatu hari berjalan melewati seorang gadis yang tengah bersenandung syair cinta pada kekasihnya. Irama hatinya syahdu berdendang:

Aku jatuh cinta kepadanya
Sebelum jimat-jimat terputus
Condong dan berayun
Bagaikan batang halus

Mendengar itu Abu Bakar bertanya, “apakah kau budak atau merdeka? Dan siapa sebenarnya lelaki yang engkau cinta?” Gadis itu menjawab malu-malu dan berkelit, “Saya budak. Saya bermain cinta dengan hatinya. Rasanya seperti terbunuh karena kecintaaan pada pemuda bernama Muhammad Ibn Qasim.”

Melihat akhlaknya yang mulia dan demi menjaga kesucian cinta, Abu Bakar akhirnya membeli budak tersebut dari tuannya lalu diantarkan pada Muhammad AIbn Qasim Ibn Ja’far Ibn Abi Thalib, seraya berujar “ Wanita ini menarik, pasti banyak laki-laki tergoda olehnya. Beberapa pria terbuai olehnya. Mungkin lelaki taat pun terpikat olehnya.”

Kita simak kisah lain  dari seorang gadis  yang datang kepada Utsman r.a dan berujar pilu, “ Ya Amirul Mukminin, saya sedang jatuh cinta kepada seseorang. Tetapi saya tidak mampu berbuat apa-apa.”

Utsman yang berhati lembut membawa sang gadis kehadapan lelaki yang disebutkan dan tuannya. Ia berkata, “Berikan gadis budak itu kepada keponakanmu, wahai laki-laki Anshar! Atau perlukah aku membeli dengan uangku?” Laki-laki Anshar itu berkata, “Saksikanlah wahai Amirul Mukminin, saya akan memberikan kepada keponakanku.”

Jadi, sepertinya tidak perlu disimpulkan bukan? Semoga telah tuntas kabut keraguan akan bolehnya alasan menikah karena cinta.

Bersambung…

Sunday, January 14, 2018

Cawalkot Subulussalam, Mau Apa Sih?


Cepologis.com - Catatan ringan ini sekedar analisis pribadi, sebagai warga yang berlumuran keringat dan lama menghisap debu pilu dari tanah Kota Subulussalam.

Sebagai rakyat, nyata-nyatanya kebahagiaan adalah saat tercukupinya sandang, pangan, papan, dan selebihnya (jika berkesempatan) diakhir pekan bisa menyalurkan bakat, hobi, kreatifitas dan berekreasi ke tempat wisata terdekat sekedar melepas penat.

Maka bila masih ramai terdengar jerit tangis jasad-jasad luka di lorong yang tak terjamah tangan mulia Pak Wali, saya katakan pekerjaan anda dan tim anda NOL BESAR.  

Hajatan akbar tahun ini terkait pemilihan walikota dan wakil walikota tentu sudah tersiar di telinga segenap masyarakat Kota Subulussalam. Dan tentunya para calon sudah mulai menancapkan bius-biusnya.  Menjual kelebihan dan kekuatan masih masih-masing.

Seperti pemilihan sebelum-sebelumnya, politik uang (money politic) jadi hegemoni yang sulit dihempas. Pertanyaannya, bisa tidak kali ini rakyat memilih tidak berdasarkan tebalnya amplop yang diterima?

Peta politik cukup menarik karena menghadirkan orang baru di kontestasi kali ini. Dari lima pasangan calon selain Sartina (kita tau siapa dibelakangnya), ada dua orang nama baru yang muncul yakni, Anasri Sambo (Ogek Anas) dan Jalaluddin. Background mereka yang non politik menjadi napas segar dan harapan baru. Kendati demikian, mampukah mereka mengungguli tiga pasangan yang tentunya punya pengalaman cukup dan sangat ‘licin’ dalam dinamika kontestasi pemilukada. Kita tunggu saja manuver-manuvernya.

Dalam alam demokrasi, segala hal yang tidak mungkin akan menjadi mungkin. Suara mutlak tertinggi di tangan rakyat. Masalahnya apakah suara rakyat semudah itu bisa dibeli? Berkaca kebelakang pada pilwalkot yang sudah-sudah, kita menemui kenyataan pahit bahwa masyarakat kita masih sangat irrational choice. Alasan ekonomi dan ketakutan jadi dalih mereka.

Maka yang perlu dilakukan adalah pencerdasan. Max Weber mengungkapkan, pemilih yang rasional (rational choice) itu mengambil keputusan berdasarkan nilai yang dipegang teguh. Dalam konteks pemilukada berarti pemilih mengedepankan kesamaan nilai yang jadi prinsip si calon walikota dengan pemilihnya. 

Frasa ‘ambil saja uang mereka, tapi jangan pilih mereka’ menarik untuk didengung-dengungkan sepanjang pemilu kali ini. Dengan begitu, besar kemungkinan yang akan menduduki kursi walikota atau anggota dewan adalah orang yang benar-benar berkualitas.

Idealnya, pertarungan pilkada kali ini adalah adu ide, gagasan, dan prestasi bukan adu uang dan kedekatan family. Maka dari itu sangat wajar sekali kita bertanya, 'Hai kelen (baca loghat medan) semua, maunya kelen apa sih?